Sejarah dan fungsi alat musik tradisional calung

Kunci calung

Kunci calung

Alat musik calung berasal dari mana – Calung merupakan salah satu benda yang selalu digunakan dalam upacara pertanian. calung adalah alat yang disakralkan dan dalam memainkannya ada irama serta tembang tertentu. Selain itu juga, memainkan calung dipercaya dapat mencegah bala (musibah) dan juga dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Calung merupakan salah satu kesenian yang masih bisa bertahan hingga kini bersama dengan angklung. Sedangkan tiga kesenian lainnya tidak bisa lagi menjaga eksistensinya dan bahkan dikategorikan kedalam warisan budaya Sunda yang hampir punah.

Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan memukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Calung adalah seperangkat alat musik yang terbuat dari bambu. Teknik permainannya dengan cara dipukul. Alat musik calung makin lama makin berkembang seirama dengan perkembangan tradisinya. Calung masuk dalam kategori idiophone yaitu alat musik dimana badan alat musik itu sendiri yang menjadi sumber bunyi. Calung juga termasuk alat musik perkusi karena cara memainkannya dengan dipukul. Terdapat beberapa alat musik tradisional yang berbahan dasar bambu yang sedikit banyak memiliki kemiripan dengan calung namun memiliki penamaan yang berbeda di setiap daerah.

Secara etimologi, kata calung ini berasal dari caca cici sing kurulung, yang dapat berarti suara bilah bambu yang dipukul. Alat musik calung memiliki dua jenis, yaitu Calung Rantay dan Calung Jinjing.

Jenis-jenis alat musik calung

Calung Rantay

Calung rantay sering disebut juga calung renteng, calung gambang ataupun calung runtuy. Beberapa para ahli mengklasifikasikan bahwa alat musik calung rantay dan calung gambang berbeda jenis, dikarenakan di beberapa daerah alat musik calung gambang memiliki dudukan yang paten, kurang lebih bentuknya seperti xylophon atau kolintang di Minahasa.

Untuk memainkan alat musik calug rantay biasanya dengan cara dipukul menggunakan dua buah alat pemukul dengan duduk bersila. Alat musik calung rantay ini terdiri dari bilah bambu yang diikat dan kemudian disusun secara berderet dengan urutan bambu dari yang terkecil sampai yang paling besar, lalu tali pengikatnya direntangkan di dua batang bambu yang melengkung.

Komposisinya dalam alat musik calung ini ada yang berbentuk satu deretan dan juga ada yang berbentung dua deretan. Untuk calung yang berukuran besar disebut calung indung (calung induk) dan untuk calung yang berukuran kecil disebut calung rincik (calung anak).

Di beberapa daerah seperti di Cibalong, Tasikmalaya, dan juga Kanekes, calung rantay ini memiliki ancak khusus dari bambu atau kayu.

Calung Jinjing

Alat musik calung jinjing ini berbentuk tabung-tabung bambu yang kemudian digabungkan oleh paniir (sebilah bambu kecil). Berbeda halnya dengan alat musik calung rantay, calung jinjing ini dimainkan dengan cara dipukul sembari dijinjing. Alat musik calung jinjing berasal dari bentuk dasar calung rantay dibagi menjadi empat bagian bentuk wadrita (alat) yang terpisah, yaitu calung kingking, calung jongrong, calung panepas, dan juga calung gonggong. Keempat buah alat musik ini dimainkan oleh empat pemain dan masing-masingnya memegang calung dalam fungsi berbeda.

  • Calung Kingking, calung ini mempunyai 15 bilah bambu dengan urutan nada tertinggi,
  • Calung Panepas, calung ini mempunyai 5 bilah bambu yang nadanya dimulai dari nada terendah pada calung kingking,
  • Calung Jongrong, calung ini sama dengan calung panepas, bedanya hanya pada urutan nadanya yang dimulai dari nada terendah pada calung panepas,
  • Calung Gonggong, calung ini mempunyai 2 bilah bambu dengan nada terendah.

Zaman dahulu, para pemuda biasanya memainkan calung disela-sela pekerjaannya mengusir burung dan hama lainnya yang ada di sawah. Sedangkan di Desa Parung, Tasikmalaya terdapat sebuah upacara yang disebut calung tarawangsa. Pada upacara tarawangsa ini calung akan dikolaborasikan dengan alat musik tarawangsa sebagai ritual penghormatan terhadap Dewi Sri. Alat musik Calung yang biasa dipakai dalam upacara ini adalah calung rantay. Lagu yang dibawakan pada saat upacara ini berlangsung adalah lagu yang berisi puji-pujian terhadap Dewi Sri.

Pada perkembangannya, fungsi dari alat musik calung ini bergeser menjadi pengiring seni pertunjukan yang bernama calungan. Perpaduan di dalam mengkomposisikan tabuhan gending, lagu, guyonan atau lawakan menjadikan sebuah garapan musik rakyat yang sangat digemari di seluruh lapisan masyarakat, khususnya di provinsi Jawa Barat. Calung yang hidup dan dikenal oleh masyarakat saat ini adalah calung dalam bentuk penyajian seni pertunjukan, dengan memakai waditra yang disebut calung jingjing.

Fungsi Alat Musik Calung

Awal mulanya calung dipentaskan untuk mengiringi upacara-upacara adat sunda sebagai ritual perayaan masyarakat Jawa Barat, namun dengan berkembangnya zaman calung berubah fungsi menjadi alat musik yang manghibur masyarakat dengan menghasilkan harmoni yang indah.

Proses Pembuatan Alat Musik Calung

Proses dalam membuat calung memerlukan waktu sampai berbulan–bulan bahkan terbilang tahun lamanya. Dimulai dari pemilihan bambu, biasanya dipilihnya jenis bambu tutul atau bambu wulung, penebangan dan pengeringan bambu.

Cara untuk membuat Calung sebetulnya cukup sederhana,pertama kita sediakan alatnya seperti: Gergaji, bedog (pisau yang besar), dan amplas. Untuk bahan pembuatan Calung adalah: awi wulung (bambu hitam) atau bisa juga menggunakan bahan awi temen (bambu yang berwarna putih). Pertama-tama kita potong awi wulung (bambu hitam) dengan gergaji menjadi 8 bagian dengan ukuran 14 cm sampai 22 cm, lalu potong bambu yang sudah dibelah menggunakan bedog dibagian luar kedalam bambu agar membuat sopakan dibambu, lalu lubangi sedikit dibagian sisi kiri dan sisi kanan bambu, buat bambu yang memanjang kira-kira 35 cm untuk menyambungkan semua bambu tersebut, lalu potong bambu seukuran sekitar 5 cm untuk pegangan tangan pada calung, dan sediakan potongan plastik untuk menahan bambu. ‘etelah amplas semua bahan yang sudah jadi lalu sambungkan satu persatu bambudengan bambu yang memanjang dan masukan plastik untuk menahan bambu agar tidak berantakan, setelah memasukan 4 dari 8 bambu lalu masukan peganganya setelah itu masukkan sisa 4 bambu lainnya, ulangi dengan cara yang sama seperti di awal,maka jadilah calung.

Sejarah dan fungsi alat musik tradisional calung | sejarah | 4.5