Nama dan gambar senjata tradisonal 34 provinsi indonesia

Senjata tradisional suku indonesia

Senjata tradisional suku indonesia

Pengertian senjata tradisional – Semua negara memiliki kekayaannya masing-masing. Namun beda dengan negara kita ini negara indonesia. negara indonesia adalah negara paling terkaya di dunia. Kaya dengan budaya, adat/tradisi, sumberdaya alam hayati maupun non hayati, baik yang berada di darat maupun laut/air.

Dengan demikian tentu Indonesia kaya dengan berbagai macam suku atau etnis. secara otomatis budaya dan adat mereka juga beraneka macam. termasuk senjata yang mereka pakai secara turun temurun dari nenek moyang mereka.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia di masa silam, senjata tradisional memiliki peranan penting dalam fungsi praktisnya sebagai sarana perlindungan diri, alat perang, maupun sebagai alat untuk mempertahankan hidup. Akan tetapi, senjata-senjata tersebut kini telah beralih kegunaan dan lebih menonjolkan fungsi estetisnya sebagai pelengkap pakaian adat. Seperti berikut ini :

Macam-macam senjata tradisional khas indonesia

Senjata Tradisional Aceh

Senjata tradisional Aceh bernama Rencong atau dalam bahasa setempat disebut Rintjong. Rencong adalah sebilah pedang pendek dengan gagang atau pegangan yang dibuat melengkung 90 derajat. Senjata tradisional ini telah ada semenjak masa Kesultanan Aceh pada kepemimpinan sultan pertamanya yakni Sultan Ali Mughayat Syah. Dahulunya rencong digunakan sebagai alat perlindungan diri bagi para pria bangsawan. Namun, kini ia lebih berfungsi sebagai pelengkap hiasan pakaian adat Aceh Ulee Balang. Karena kepopuleran Rencong, terkadang masyarakat dunia bahkan sampai menjuluki Aceh dengan sebutan “Tanah Rencong”.

Senjata Tradisional Sumatera Utara

Orang Batak di Sumatera Utara memiliki senjata tradisional yang bernama Piso Gaja Dompak. Pisau ini adalah sebuah senjata berupa pisau dengan ukiran penampang berbentuk gajah pada bagian tangkai senjatanya. Piso Gaja Dompak dahulunya digunakan secara terbatas pada kalangan raja-raja Batak dan mulai ada sejak masa kepemimpinan Raja Sisingamaraja I. Kekuatan supranatural yang diyakini dimiliki oleh pisau ini membuat ia tidak dibuat secara masal dan hanya diwariskan secara turun temurun.

Senjata Tradisional Riau

Masyarakat Melayu Riau memiliki senjata tradisional yang bernama Pedang Jenawi. Pedang ini adalah sebuah pedang panjang yang bilahnya terbuat dari baja. Bentuk bilahnya sendiri lurus dan meruncing di bagian ujungnya. Pedang Jenawi dulunya digunakan para panglima perang Kerajaan Sriwijaya sebagai sarana perlindungan diri dan alat menyerang lawan. Keberadaannya kini mulai langka, padahal semakin banyak kolektor senjata tradisional yang selama ini terus memburunya. Selain Pedang Jenawi, sebetulnya ada beberapa senjata tradisional Riau lainnya yang tak kalah unik. Di antaranya yang tergolong senjata pendek seperti jembia, beladau, belati, keris, badik, dan sabit; serta senjata panjang seperti kojou, tombak, seligi, dan sundang.

Senjata Tradisional Sumatera Barat

Suku Minang di Sumatera Bara memiliki senjata tradisional yang bernama Karih. Karih adalah sebuah senjata berbentuk seperti keris tapi tidak memiliki lekuk-lekukan seperti keris di Jawa. Dahulunya, Karih digunakan untuk perlindungan diri dari musuh atau binatang buas saat para pria tengah bekerja. Ia diletakan diselipkan depan pinggang agar sewaktu-waktu mudah diambil. Untuk saat ini, karih biasanya hanya dikenakan para mempelai pria sebagai pelengkap pakaian adat yang dikenakannya.

Senjata Tradisional Kepulauan Riau

Dalam budaya masyarakat Kepulauan Riau, dikenal senjata tradisional yang bernama Badik Tumbuk Lado. Senjata ini berupa sebuah senjata tikam yang berukuran panjang antara 27 sd 29 cm dan lebar antara 3,5 sampai 4,0 cm. Dahulunya, badik tumbuk lado digunakan para pria sebagai pelengkapan berburu dan alat perlindungan diri. Namun, saat ini fungsinya telah beralih menjadi pelengkap pakaian adat Kepulauan Riau yang biasa dikenakan mempelai pria saat upacara pernikahannya.

Senjata Tradisional Kepulauan Bangka

Belitung Masyarakat Bangka Belitung sebetulnya memiliki beragam jenis senjata tradisional, hanya saja yang paling dikenal di kancah Nusantara adalah senjata yang bernama Siwar Panjang. Siwar Panjang adalah sebuah pedang lurus, rata, pipih dan ringan yang 2 matanya tajam seperti silet. Senjata yang sekilas mirip dengan Mandau khas suku Dayak di Kalimantan ini dulunya digunakan sebagai alat perang masyarakat Bangka saat melawan penjajahan merebut kemerdekaan.

Senjata Tradisional Jambi

Masyarakat Melayu Jambi juga memiliki senjata tradisional yang sama dengan senjata tradisional masyarakat Kepulauan Riau, yakni Badik Tumbuk Lado. Tak mengherankan, masyarakat kedua provinsi ini secara historis dan antropologis memang memiliki kedekatan budaya. Namun, antara badik Tumbuk Lado dari Jambi dan yang dari Kepulauan Riau terdapat sedikit perbedaan ciri khas. Badik tumbuk lado khas Jambi umumnya cenderung lebih pendek dan memiliki ukiran yang lebih banyak.

Senjata Tradisional Sumatera Selatan

Sumatera Selatan memiliki senjata tradisional yang bernama Tombak Trisula. Tombak ini berupa sebuah pedang kecil dengan mata tiga. Tombak Trisula diyakini berasal dari budaya Hindu dan Budha yang sempat berkembang di wilayah Kerajaan Sriwijaya di masa silam. Keyakinan ini didasari oleh kemiripan bentuk senjata tradisional ini dengan senjata tombak trisula milik Dewa Siwa dalam mitologi agama Hindu.

Senjata Tradisional Bengkulu

Ada 3 jenis senjata tradisional yang dikenal dalam budaya masyarakat Bengkulu. Ketiganya adalah Badik, Kuduk, dan Rudus. Badik adalah sebuah pisau kecil bermata satu yang digunakan sebagai sarana perlindungan diri. Kuduk adalah senjata tusuk tajam dengan ujung meruncing, ia juga disebut senjata Rambai ayam karena bentuknya seperti taji ayam Bangkok. Sementara Rudus adalah pedang panjang yang dulunya digunakan sebagai alat perang.

Senjata Tradisional Lampung

Masyarakat adat Lampung mengenal banyak ragam dan jenis senjata tradisional, seperti Candung (Golok), Kekhis (Keris), Badik, Lading (Pisau), dan Terapang. Kendati begitu, yang paling unik di antara semua senjata tradisional Lampung tersebut adalah Terapang. Terapang adalah senjata yang berwujud seperti sebulah keris dengan lekukan yang hanya sedikit, bahkan nyaris rata. Perlu diketahui bahwa, Terapang juga dikenal dalam budaya masyarakat Melayu di Provinsi lainnya.

Senjata Tradisional Jawa Barat Masyarakat Sunda di Jawa Barat mengenal beragam perkakas senjata dalam kehidupannya sehari-hari. Salah satu yang cukup dikenal adalah senjata tradisionalnya yang bernama Kujang. Kujang diperkirakan mulai ada sejak awal abad 8 M. Ia dibuat dari baja yang ditempa dan dilengkapi beragam bahan pamor. Panjangnya tidak lebih dari 25 cm dengan berat sekitar 300 gr. Beberapa ahli meyakini kata “Kujang” sejatinya berasal dari kata “Kudihyang”, kudi berarti Manusia dan Hyang berarti Tuhan. Kujang sendiri sebetulnya secara struktur tidak memungkinkan untuk dijadikan sarana perlindungan diri. Ia lebih menonjolkan sisi estetisnya dibanding sisi praktisnya.

Senjata Tradisional Banten

Masyarakat Banten secara umum memiliki kedekatan budaya dengan masyarakat Sunda di Jawa Barat. Oleh karena itu, beberapa simbol budaya antara keduanya juga banyak kemiripan. Hal ini dapat dilihat dari jenis senjata tradisional yang digunakan masyarakatnya di masa silam. Masyarakat Banten juga menggunakan Kujang sebagai senjata tradisionalnya. Kujang khas Banten sama seperti Kujang yang berasal dari Jawa Barat, baik secara struktur, bahan pembuatan, maupun dari sisi fungsinya.

Senjata Tradisional Jakarta

Hingga saat ini, kita bisa melihat kebiasaan masyarakat suku Betawi, utamanya para pria yang selalu menyelipkan Golok di pinggang ketika memakai pakaian adatnya. Golok memang memiliki 2 fungsi dalam budaya Betawi, yang pertama sebagai aksesoris yang mempercantik penampilan saat mengenakan pakaian adat, dan fungsi praktis sebagai senjata tradisional. Golok khas Betawi memiliki satu bagian mata yang tajam. Sementara satu bagian lainnya tidak tajam. Ia juga dilengkapi dengan serangka yang dipakai pada saat golok tidak sedang digunakan.

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Selama ini, Suku Jawa di Jawa Tengah mengenal Keris sebagai senjata tradisionalnya. Keris adalah sebuah senjata tikam yang termasuk golongan belati. Bentuknya menyempit ke bagian ujung dengan bilah yang berkelok-kelok. Beberapa keris memiliki serat-serat logam berwarna cerah di bagian bilahnya yang berfungsi sebagai pamor untuk mempercantik tampilannya. Selain itu, keris juga diyakini dapat diisi oleh kekuatan supranatural tertentu untuk meningkatkan keampuhannya. Keris sejak 2005 lalu telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia di UNESCO.

Senjata Tradisional Yogyakarta

Masyarakat Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat secara antropologis memiliki budaya masyarakat Jawa Tengah. Keduanya memang berasal dari satu suku yang sama yaitu Suku Jawa. Oleh karenanya, senjata tradisional yang dikenal masyarakat Yogyakarta sama dengan senjata tradisional yang dikenal masyarakat Jawa Tengah, yaitu Keris. Dalam budaya masyarakat Yogyakarta, keris biasanya diselipkan di bagian belakang pinggang bersama serangkanya yang penuh ukiran.

Senjata Tradisional Jawa Timur

Masyarakat Madura di Jawa Timur memiliki senjata tradisional yang khas dan berbeda dengan senjata tradisional suku-suku lainnya di Indonesia. Senjata tersebut bernama Celurit. Celurit Madura secara praktis berfungsi sebagai alat pertanian yang membantu para peternak Madura mencari pakan untuk sapi dan kerbaunya. Ia juga secara khusus dapat berguna sebagai identitas status sosial masyarakat kaum pria dan sarana perlindungan diri dari musuh atau binatang buas.

Senjata Tradisional Kalimantan Barat

Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Barat memiliki senjata tradisional yang bernama Dohong. Dohong adalah sebuah mata tombak yang dapat pula digunakan sebagai pisau. Panjangnya sekitar 8 inch dan dipercaya sebagai senjata tradisional Dayak yang paling tua. Jika digunakan sebagai pisau, dohong akan dilengkapi dengan gagang bulat dan sebuah serangka yang terbuat dari kayu. Dahulunya, Dohong digunakan sebagai senjata perang. Namun kini ia lebih sering dipakai sebagai alat pemotong tali pusar bayi yang baru lahir dan sebagai alat untuk menyembelih hewan korban. Dengan kegunaan tersebut, Dohong saat ini umumnya hanya dimiliki oleh Pisur atau Ketua adat Dayak.

Senjata Tradisional Kalimantan Selatan

Masyarakat suku Banjar di Kalimantan Selatan memiliki senjata tradisional yang bernama Keris Bujak Beliung. Keris Bujak Beliung adalah sebuah senjata berupa keris dengan 7 lekukan dangkal. Sekilas, keris Bujak Beliung memiliki kemiripan dengan keris dari Jawa. Ia dibuat dari baja dengan gagang dari kayu ulin. Senjata ini dulunya digunakan sebagai alat perlindungan diri bagi seorang pria saat berburu dan sebagai alat perang. Namun, fungsinya kini telah beralih sebagai pelengkap pakaian adat tradisional yang dikenakan para mempelai pria saat pesta perkawinannya.

Senjata Tradisional Kalimantan Tengah

Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Barat selain mengenal Dohong, mereka juga mengenal Sumpit sebagai senjata tradisionalnya. Sumpit adalah senjata yang digunakan dengan cara ditiup. Lebih tepatnya, anak mata sumpit dimasukan ke dalam tangkai berlubang yang panjangnya sekitar 1 sd 1,5 meter dan penggunaanya akan membidik sasaran lalu meniup ujungnya hingga mata sumpit meluncur dengan kencang. Anak mata sumpit biasanya akan dilengkapi dengan racun mematikan, terlebih jika ia digunakan dalam perburuan. Pada perkembangannya, senjata tradisional ini juga biasa digunakan dalam perang antar suku di masa silam.

Senjata Tradisional Kalimantan Timur

Mandau sebetulnya dikenal dalam budaya masyarakat Dayak, baik yang bermukim di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Akan tetapi bagi masyarakat Nusantara, senjata ini telah dikenal sebagai senjata tradisional Kalimantan Timur. Mandau adalah senjata berupa parang bergagang tanduk rusa dengan satu sisi bilah tajam. Di bagian bilah yang tumpul, Mandau umumnya dilengkapi dengan ukiran-ukiran etnik atau lubang-lubang yang ditutup tembaga atau kuningan sebagai pamornya. Mandau umumnya dilengkapi dengan sarung bilah yang terbuat dari kayu dan dihiasi ukiran-ukiran etnik. Sarung bilah ini disebut dengan istilah Kumpang. Selain ukiran, kumpang umumnya juga akan dihiasi dengan anyaman rotan sebagai tali saat dikenakan di pinggang pemakainya.

Senjata Tradisional Kalimantan Utara

Sebagai provinsi pecahan dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara juga mengangkat Mandau sebagai senjata tradisionalnya. Tak bisa dipungkiri, secara demografis masyarakat Kalimantan Utara juga didominasi oleh orang-orang suku Dayak sebagai masyarakat aslinya. Oleh karena itu, semua elemen budaya dari provinsi ini juga tak jauh berbeda dengan elemen-elemen budaya yang kita dapat temukan dalam kehidupan orang-orang suku Dayak, baik itu dari rumah adat, pakaian adat, lagu daerah, dan lain sebagainya.

Senjata Tradisional Sulawesi Selatan

Masyarakat suku Bugis, Makassar, dan Mandar di Provinsi Sulawesi Selatan mengangkat Badik atau badek sebagai senjata tradisionalnya. Badik adalah pisau bermata tunggal yang bentuknya asimetris seperti keris dengan bilah berhias pamor. Dahulu, Badik digunakan para petani untuk berburu atau membunuh hewan hutan yang merusak tanamannya. Pada perkembangannya, ia juga digunakan sebagai sarana perlindungan diri bagi mereka yang sering merantau. Seperti diketahui, orang Bugis adalah orang yang dikenal sangat gemar merantau. Dengan menyematkan badik di pinggangnya, mereka akan merasa terlindungi meski masuk ke wilayah kampung yang asing. Sebagai senjata tradisional Sulawesi Barat, Badik sendiri ada beberapa jenis, di antaranya Badik Raja, Badik Lagecong, Badik Luwu, dan Badik Lompo Battang.

Senjata Tradisional Sulawesi Barat

Sulawesi Barat adalah provinsi pecahan Sulawesi Selatan yang terbentuk sejak tahun 2000 silam. Provinsi ini dihuni oleh masyarakat suku Mandar dan Bugis sebagai entitas terbesarnya. Oleh karena itu, budaya masyarakat provinsi ini juga tidak jauh berbeda dengan budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Salah satu buktinya adalah kepopuleran Badik sebagai senjata tradisionalnya. Badik Sulawesi Barat dan Badik Sulawesi Selatan tidak memiliki perbedaan signifikan, baik dari segi bentuk, hiasan, maupun dari nilai fungsi yang dimilikinya.

Senjata Tradisional Sulawesi Tengah

Senjata tradisional yang berasal dari Sulawesi Tengah bernama Pasatimpo. Pasatimpo adalah senjata tikam sejenis keris dengan bagian tangkai pegangan yang bengkok ke bawah. Dahulu, Pasatimpo memiliki banyak kegunaan, misalnya untuk memotong hewan buruan, mencari kayu bakar, atau sebagai sarana perlindungan diri. Selain itu, karena dipercaya memiliki kekuatan magis, ia juga digunakan sebagai pengusir roh jahat dalam tari-tarian penyembuh. Kini, seiring kemajuan zaman, Pasatimpo cenderung lebih sering digunakan sebagai aksesoris pakaian adat. Para penari tradisional menggunakannya dengan mengikatkan senjata tersebut di pinggang kirinya.

Senjata Tradisional Sulawesi Tenggara

Orang-orang suku Buton di Sulawesi Tenggara mengenal Keris sebagai senjata tradisionalnya. Keris Buton memiliki kesamaan bentuk dan fungsi seperti keris pada umumnya. Akan tetapi, senjata khas Sulawesi Tenggara ini lebih kental dengan ornamen warna keemasan. Selain itu, tambahan pamor pada bilahnya juga cukup banyak dengan pola geometris. Pada bagian pegangan yang terbuat dari kayu, keris ini dilengkapi dengan ukiran berbentuk manusia. Keris Buton dulunya hanya dikenal oleh kalangan kerajaan, namun kini ia lebih sering digunakan sebagai aksesoris yang mempercantik tampilan seorang pengantin pria saat mengenakan pakaian adat.

Senjata Tradisional Sulawesi Utara

Masyarakat suku Sangihe di Sulawesi Utara mempunyai senjata tradisional yang bernama pedang Bara Sangihe. Senjata ini terbilang unik karena bentuknya yang menyerupai bentuk buaya. Bagian ujung bilah pada pedang ini bercabang dengan gerigi-gerigi yang menyerupai mulut buaya. Ujung yang bercabang juga terdapat di bagian tangkai pegangannya yang terbuat dari kayu. Pedang Bara Sangihe dulunya adalah senjata yang digunakan salah satu pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara, yaitu Hengkeng U Nang. Pahlawan yang lahir di tahun 1590 ini dikenal sebagai seorang yang mahir memainkan pedang. Pedang Bara Sangihe sendiri diyakini mulai ada pada zamannya.

Senjata Tradisional Gorontalo

senjata tradional Gorontalo bernama Wamilo. Wamilo adalah sebuah senjata yang bentuknya menyerupai golok, tapi ujung bilahnya agak melengkung sedikit ke arah bawah. Senjata ini biasanya diselipkan pada pria pada sarung yang dikenakan dipinggangnya. Ia hanya digunakan sebagai sarana perlindungan diri saat bekerja di kebun atau saat berburu di hutan. Selain Wamilo, terdapat beberapa senjata tradional lainnya dari masyarakat Gorontalo yaitu Bitu’o (sejenis keris), Badik, Sabele (sejenis parang), dan Travalla.

Senjata Tradisional Maluku

Masyarakat Maluku secara umum mengangkat Parang Salawaku sebagai senjata tradisionalnya. Senjata ini adalah sebuah senjata yang terdiri atas sebilah pisau panjang (parang) dan sebuah perisai (salawaku). Parang terbuat dari besi sepanjang 1 meter yang ditempa dengan gagang dari kayu gapusa. Sementara Salawaku terbuat dari kayu keras dengan hiasan etnik dari kulit kerang. Di masa silam, Parang Sawalaku digunakan sebagai alat perang. Namun, seiring perkembangan zaman, ia kini hanya digunakan sebagai aksesoris penari Cakalele sebagai perlambang kegagahan dan kekuatan para pria. Parang Salawaku dapat kita temukan pada logo Pemerintah Provinsi Maluku. Bagi masyarakat Maluku, senjata mereka ini merupakan simbol kemerdekaan rakyat

Senjata Tradisional Maluku Utara

Maluku Utara adalah provinsi yang baru memecahkan diri dari Provinsi Maluku pada tahun 2002 silam. Secara demografis, masyarakat Maluku utara memiliki kedekatan budaya dengan masyarakat provinsi Maluku. Oleh karena itu, senjata tradisional yang diangkat sebagai ikon budaya provinsi ini juga sama, yaitu Parang Salawaku. Parang Salawaku khas Maluku Utara tidak memiliki perbedaan yang spesifik dengan Parang Salawaku Maluku, baik dari segi bentuk, fungsi, maupun penggunaannya.

Senjata Tradisional Bali

Masyarakat Provinsi Bali mengenal banyak sekali jenis senjata tradisional, di antaranya Keris, Tombak, Tiuk, Taji, Kandik, Caluk, Arit, Udud, Gelewang, Trisula, Panah, Penampad, Garot, Tulud, Kis-Kis, dan lain sebagainya. Namun di antara banyak senjata tersebut, yang paling unik dan indah adalah Keris Bali. Secara struktur, keris Bali memiliki kesamaan dengan keris pada umumnya. Hanya saja, pada senjata ini kita dapat menemukan beragam ukiran baik pada bilah, gagang, maupun pada sarung bilah atau carangkanya. Ukiran-ukiran tersebut bisa berupa bentuk dewa, raksasa, pedande (pendeta), penari, dan bentuk pertapa hutan. Bahkan, kita juga dapat menemukan keris Bali dengan tahta emas dan batu mulia.

Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat

Orang-orang suku Sasak di Provinsi Nusa Tenggara Barat mengenal senjata tradisional yang bernama Tulup. Tulup adalah senjata yang serupa dengan sumpit tapi ukurannya lebih panjang. Senjata tradisional ini biasa digunakan oleh orang-orang suku Sasak untuk berburu. Tangkai panjangnya terbuat dari kayu meranti sementara ancar atau pelurunya terbuat dari lidi pelepah pohon enau yang diruncingi di satu ujungnya. Untuk mengefektifkan perburuan, pada ujung ancar biasanya akan diolesi racun mematikan yang diperoleh dari getah pohon tatar.

Senjata Tradisional Nusa Tenggara Timur

Masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya suku Atoni dan suku Sumba mengenal Sundu atau Sudu sebagai senjata tradisionalnya. Senjata ini adalah sebuah senjata semacam keris tapi memiliki lekukan yang sangat sedikit dengan sudut yang tumpul. Sundu termasuk senjata tikam dan hanya digunakan untuk menyembelih hewan buruan. Selain Sundu, masyarakat NTT juga mengenal beragam senjata tradisional lainnya yang antara Parang, Saweo, Kampak, Pisau, dan Senapan Tumbuk.

Senjata Tradisional Papua Barat

Senjata tradisional Papua Barat adalah Pisau Belati. Tidak seperti pisau belati yang biasanya kita kenal, pisau Belati yang menjadi senjata tradisional Papua Barat ini terbilang sangat unik. Jika biasanya belati terbuat dari tempaan logam, pisau belati Papua Barat ini justru terbuat dari tulang kaki burung kasuari. Tulang kaki burung kasuari dipilih karena strukturnya yang kompak dan keras sehingga sangat awet dan tak mudah melapuk. Pisau belati Papua Barat di bagian pangkal pegangannya umumnya juga dihiasi dengan bulu burung kasuari.

Senjata Tradisional Papua

Dalam perang antar kampung yang hingga kini masih sering berlangsung antar penduduk Papua, kita bisa menemukan sebuah senjata khas yaitu Panah dan Busur. Anak panah terbuat dari bambu dengan mata tulang kangguru, sementara busurnya terbuat dari bilah bambu dengan tali rotan sebagai tali busurnya. Untuk meningkatkan efektifitas serangan, mata panah biasanya akan dioles dengan racun alami yang diambil dari getah pohon sembaru. Panah dan Busur adalah sepasang senjata utama yang selain digunakan untuk berperang, juga dapat dipakai sebagai senjata perburuan.

Nama dan gambar senjata tradisonal 34 provinsi indonesia | sejarah | 4.5