Daftar upacara adat yang ada di beberapa daerah indonesia

Upacara adat suku indonesia

Upacara adat suku indonesia

Tradisi upacara adat di indonesia – Banyak sekali bentuk upacara adat yang dilaksanakan suku-suku di Indonesia. Dengan adanya upacara adat ini semakin menambah aneka ragam kebudayaan Indonesia. Apalagi yang namanya upacara adat perkawinan, masing-masing suku bangsa tersebut memiliki cara yang berbeda antara yang satu dengan yang lainya. Upacara pernikahan adalah upacara adat yang diselenggarakan dalam rangka menyambut peristiwa pernikahan. Pernikahan sebagai peristiwa penting bagi manusia, dirasa perlu disakralkan dan dikenang sehingga perlu ada upacaranya. Pelaksanaan upacara tradisional suatu masyarakat umumnya sangat menarik, karena memiliki keunikan, kesakralan, dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Berikut ini beberapa upacara adat yang ada di masyarakat Indonesia. Seperti berikut :

Macam-macam upacara adat tradisional indonesia

Aruh Baharain – Dayak

Aruh baharin ialah upacara adat di Indonesia yang selalu digelar Masyarakat Dayak setelah musim panen padi huma. Upacara adat ini dilakukan sebagai syarat untuk memohon izin leluhur agar mereka dapat memakan hasil panen dari padi yang mereka tanam. Upacara adat ini umum dilakukan di balai adat. Dalam kepercayaan mereka, jika padi yang dipanen dimakan tanpa seizin leluhur, bala bahaya diyakini akan menghampiri kampung di kemudian hari.

Batombe – Sumatera Barat

Upacara adat di Indonesia selanjutnya berasal dari Sumatera Barat benama Batombe. Batombe adalah upacara balas pantun yang dilakukan antara bujang gadis. Pada mulanya, upacara ini dilakukan setiap salah satu warga kampung akan membangun rumah gadang, namun dewasa ini, upacara batombe juga diterapkan ketika ada hajat pernikahan.

Aruh Buntang – Dayak

Aruh buntang adalah upacara adat suku Dayak Dusun Deah yang dilakukan untuk mengantarkan arwah orang meninggal menuju tempat di kehidupan berikutnya. Upacara aruh buntang dilakukan selama 3 sampai 14 hari dengan perpaduan nyanyian, tarian, dan musik. Nyanyian, tarian, dan musik yang menjadi bagian dari upacara ini dianggap amat sakral bagi penduduk setempat.

Etu – Flores

Etu adalah upacara pagelaran tinju adat yang dilakukan masyarakat Flores untuk menguji kejantanan antar pemuda. Berbeda dengan tinju konvensional, sarung tinju yang dikenakan petinju etu hanya terbuat dari anyaman ijuk. Satu tangan disarungi untuk memukul, dan satu tangan lainnya dibiarkan tanpa sarung dan digunakan hanya untuk menangkis pukulan lawan.

Katiana – Poso

Katiana adalah upacara selamatan bagi wanita suku Pamona (Poso) yang baru pertama kali hamil. Umumnya, upacara ini dilakukan saat usia kehamilan telah mencapai 7 bulan. Upacara Katiana ini biasanya dilakukan apabila kandungan itu sudah berumur 6 atau 7 bulan.

Katoba – Sulawesi Tenggara

Katoba adalah upacara adat di Indonesia yang dilakukan Suku Muna di Sulawesi Tenggara. Upacara ini dikhususkan bagi anak-anak yang menjelang usia akil balik (6 sampai 12 tahun) sehari setelah mereka dikhitan. Anak-anak tersebut dalam upacara ini akan diberi sejumlah petuah oleh seorang imam.

Macceratasi – Bugis

Macceratasi merupakan upacara adat menumpahkan darah hewan ke laut yang dilakukan oleh masyarakat suku Bugis, Mandar, dan Banjar pesisir Kotabaru. Upacara adat di Indonesia yang satu ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan terhadap hasil laut yang mereka peroleh selama satu tahun.

Mallassuang Manu – Mandar

Mallassuang Manu adalah upacara muda mudi Suku Mandar yang tinggal di Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam upacara adat ini, kaum muda mudi melepaskan beberapa pasang ayam jantan dan betina sebagai wujud permohonan kepada Tuhan agar mereka segera dikaruniai jodoh.

Manulangi Natua-Tua – Batak

Manulangi Natua-Tua adalah upacara adat Batak yang dilakukan dengan memberi makan kepada orangtua yang sudah lanjut usia. Upacara ini merupakan wujud pengabdian masyarakat Batak terhadap orang tua yang telah membesarkan mereka.

Mappanretasi – Bugis

Mappanretasi adalah sebuah upacara adat suku Bugis yang turun-temurun dilaksanakan setiap bulan April di Pagatan, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Indonesia. Upacara ini dilakukan dengan melarung berbagai bahan pangan ke laut sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas karunia hasil laut yang berlimpah sepanjang tahun.

Miya – Dayak

Miya adalah sebuah upacara kematian Suku Dayak Ma’anyan yang dilakukan untuk mengantarkan seseorang yang telah meninggal ke tempat peristirahatannya di alam yang selanjutnya. Upacara adat di Indonesia yang satu ini dianggap sebagai upacara adat yang tertinggi dan dilaksanakan khusus oleh umat pemeluk agama Kaharingan.

Nadran – Jawa

Nadran adalah upacara adat di Indonesia yang digelar nelayan pesisir pantai utara Jawa rutin setiap tahun. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan yang berlimpah selama mereka melaut. Mereka melarung berbagai bahan pangan ke laut, dan berharap di tahun-tahun berikutnya mereka akan mendapatkan lebih banyak lagi hasil tangkapan.

Ma’nene – Toraja

Ritual Ma’nene adalah upacara adat Tana Toraja yang dilakukan ketika mereka akan mengganti kain yang dikenakan jenazah leluhur mereka. Untuk diketahui, jenazah suku Toraja diawetkan dan belum akan dikebumikan sebelum keluarga yang ditinggalkan mampu menggelar pesta besar untuk mengantar mereka ke alam baka.

Tabuik – Sumatera Barat

Upacara yang satu ini sebenarnya lebih berkaitan dengan religi, berdasarkan kepercayaan umat Islam tapi hanya ditemukan di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sehingga, menjadi sebuah tradisi yang khas dari daerah tersebut. Upacara Tabuik ini digelar sebagai bentuk peringatan atas kematian anak Nabi Muhammad SAW dalam sebuah perang di zaman Rasulullah dulu. Dilakukan pada Hari Asura setiap tanggal 10 Muharram tahun Hijriah. Beberapa hari sebelum datangnya waktu penyelenggaraan upacara ini, masyarakat akan bergotong royong untuk membuat dua tabuik. Kemudian, pada hari H, kedua tabuik itu di arak menuju laut di Pantai Gondoriah. Satu tabuik diangkat oleh sekitar 40 orang. Di belakangnya, rombongan masyarakat dengan baju tradisional mengiringi, bersamaan dengan para pemain musik tradisional. Lalu, kedua tabuik itupun dilarung ke laut.

Dugderan – Jawa Tengah

Upacara ini digelar untuk menandai datangnya bulan puasa Ramadhan. Tapi, karena hanya diadakan oleh masyarakat Semarang, maka upacara Dugderan ini pun jadi semacam upacara tradisional. Kata “dugderan” sendiri berasal dari perpaduan bunyi bedug dengan meriam bambu yang memang identik dengan bulan puasa. Upacara ini dilaksanakan tepat sehari sebelum puasa pertama dilaksanakan, mulai dari pagi hingga sore hari menjelang senja. Dalam upacara tradisional Indonesia ini, masyarakat menggelar “warak ngendok”, atau mengarak binatang jadi-jadian yang bertubuh kambing, berkepala naga dan berkulit sisik emas. Binatang rekaan ini dibuat dari kertas warna-warni. Selain itu, juga digelar pasar rakyat, atraksi drum band, pawai pakaian adat tradisional nusantara, hingga penampailan berbagai kesenian khas Kota Semarang, yang digelar selama sepekan sebelumnya.

Ngaben – Bali

Kegiatan ini merupakan upacara pembakaran atau kremasi jenazah umat Hindu di Bali. Untuk melaksanakan upacara Ngaben ini, keluarga dari jenazah tersebut akan membuat “bade dan lembu” untuk tempat jenazah yang akan dibawa. Tempat tersbeut dibuat dari kayu dengan model yang sangat megah, dibantu oleh masyarakat sekitarnya. Kemudian, jenazah pun di arak, dan terakhir dibakar bersamaan dengan tempat tersebut, dalam sebuah ritual khusyuk.

Rambu Solo dan Mapasilaga Tedong – Sulawesi Selatan

Rambu Solo juga merupakan upacara kematian, yang diwarisi oleh masyarakat Toraja secara turun temurun. Keluarga dari orang yang meninggal akan menggelar upacara ini sebagai tanda penghormatan terakhir. Kemudian, jenazahnya akan dibawa ke makam yang terletak di tebing goa, yakni pekuburan Londa. Bersamaan dengan itu, juga dibawa sebuah boneka kayu yang telah dibuat sebelumnya, yang wajahnya sangat mirip dengan orang yang telah meninggal itu. Sedangkan, upacara Mapasilaga Tedong merupakan acara adu kerbau. Sebelumnya, akan diawali dengan parade kerbau, mulai dari jenis kerbau jantan, kerbau albino, hingga kerbau salepo yang memiliki bercak-bercak hitam di punggungnya. Setelah adu kerbau, maka akan dilanjutkan dengan prosesi pemotongan kerbau khas adat Toraja, yang disebut Ma’tinggoro Tedong. Dalam prosesi tersbeut, kerbau harus langsung mati dengan sekali tebas.

Pasola – Nusa Tenggara Timur

Dalam upacara tradisional Indonesia ini, akan ada dua kelompok yang melakukan “perang-perangan”. Setiap kelompok yang terdiri atas lebih dari 100 pemuda itu “berperang” dengan bersenjatakan tombak dari kayu yang ujungnya tumpul, dan juga mengenakan baju perang dalam adat mereka. Pada bulan Februari atau Maret setiap tahunnya, upacara ini akan digelar untuk menyampaikan doa kepada Tuhan, agar panen mereka pada tahun itu bisa berhasil.

Daftar upacara adat yang ada di beberapa daerah indonesia | sejarah | 4.5