Asal usul dan fungsi musik marawis secara lengkap

Hadroh marawis

Hadroh marawis

Sejarah marawis di indonesia – Musik marawis adalah salah satu bentuk kesenian Islami, kesenian ini berbentuk lantunan syair yang berisi tentang puji-pujian kepada Yang Maha Esa dan sholawat kepada para nabi, lantunan tersebut diiringi oleh alat musik tetabuhan yang bernama sama dengan kesenian ini yakni marawis.

Kata marawis berasal dari kata marwas, alat musik marwas sejenis genderang kecil yang dipukul untuk menghasilkan bunyi, biasanya terbuat dari kayu, teras pohon Nangka atau batang kelapa tua, berukuran enam sampai tujuh inci dengan jari-jari tiga sampai empat inci, kedua sisinya ditutup dengan kulit Kambing atau kulit Sapi, berbentuk kecil dengan tali pengikat yang gunanya untuk mengencangkan kedua sisi yang ditutupi kulit, teknik tersebut sama dengan tali pengencang pada kendang, di daerah Riau alat musik marwas digunakan untuk mengiringi tarian Japin.

Asal mula musik marawis

Sejarah masuknya marawis ke Indonesia, pertama kali dibawa oleh para ulama Hadramout (Yaman) yang berdakwah ke Indonesia dan dipentaskan pertama kali di Madura, sekitar tahun 1892. Selain di Madura kesenian ini juga dibawa ke Bondowoso dan kesenian ini lebih popluer di kota Bondowoso.

Di Bondowoso lah terjadi penambahan alat musik seruling, sehingga para penari yang ingin berzafin akan lebih menikmati gerakan yang di iringi alunan suara seruling (berdiameter 2,5 sampai 3 cm dan panjang 35 cm, kedua sisi suling ini tidak ada penyumbat, dan lubang nada sendiri berjumlah 6). Bisa dikatakan bahwa marawis pada awalnya merupakan inovasi cara berdakwah umat Islam dengan pencapuran kebudayaan (akulturasi).

Cara-cara berdakwah yang juga pernah diterapkan beberapa abad yang silam oleh wali songo sebagai penyebaran Islam di Jawa, seperti Sunan Bonang yang terkenal dengan Bonang-nya, Sunan Kali jaga dengan lagu ilir-ilirnya dan Sunan Ampel dengan lagu Tombo Ati-nya.

Seiring perkembangan zaman, kesenian marawis di beberapa daerah di Indonesia dikembangkan dan dilengkapi dengan menggunakan alat musik modern seperti gitar elektrik, organ , simbal, drum, suling, dan lain-lain.
Marawis plus alat-alat musik modern ini kemudian diistilahkan sebagai kesenian gambus. Dalam catalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI 1997, pada marawis terdapat tiga jenis pukulan, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Pukulan zapin adalah nada yang sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat).

Jumlah pemain marawis

Musik ini dimainkan oleh minimal sepuluh orang. Setiap orang memainkan satu buah alat sambil bernyanyi. Terkadang, untuk membangkitkan semangat, beberapa orang dari kelompok tersebut bergerak sesuai dengan irama lagu.pemainnya pria dan wanita, dengan busana gamis dan celana panjang, serta berpeci. Uniknya, pemain marawis bersifat turun temurun. Sebagian besar masih dalam hubungan darah – kakek, cucu, dan keponakan. Sekarang hampir di setiap wilayah terdapat marawis.

Cara memainkan marawis

Marawis adalah alat musik yang dimainkan secara beregu yang terdiri dari 10-12 pemain. Marawis juga di bagi menjadi beberapa pukulan yaitu :

Dasar atau yang disebut pukulan rawi (jahipe), Rumusnya Sebagai berikut :

X = Pak
O = Dung

Rawi (jahipe) terdiri dari beberapa pukulan:

  • 1.3 (XXX O XXX O XXX O)(lambat)
  • 1.5 (XXX O XX XXX O XX XXX O)
  • Kepang (XXX XXXXXXXX O)(di seling dengan 1.3)
  • Remple (XXX O XXX XX O XXX XX O)(cepat)

Dan bisa juga di tambah dengan pukulan variasi, jika pukulan tersebut sudah matang.

Sarah Rumusnya sebagai berikut, Keterangan:

Sarah terdiri dari beberapa pukulan:

  • 1.6 (XO XXX OXX XX XXXXXXXXXX O)(cepat)
  • 2.6 (XO XXX OO XX XXXXXXXXXX O) (cepat, seling dengan 1.6)
  • 1.3 (XO XXX O XXX O) seling dengan kepang.
Asal usul dan fungsi musik marawis secara lengkap | sejarah | 4.5